Pura-pura Tidak Tahu

Aku sedang bercengkerama berdua dengan suami seorang sahabat dekatku. (Jangan heran bahwa aku bersahabat akrab dengan wanita nonmuhrim. Dalam pengalamanku, hubungan pria-wanita bukanlah melulu mengenai asmara; kami bisa bersahabat sebagai sesama ciptaan Tuhan.)

Kami sedang duduk-duduk santai. Berdua. Menyepi di tengah keramaian. Di sekeliling kami, orang-orang ramai berlalu-lalang. Mereka menari-nari dan bernyanyi-nyanyi. Entah apa tarian dan nyanyian mereka, kami asyik ngobrol sendiri.

Kami berdua ngobrol tentang kematian. Kami sepakat, kematian kami sudah dekat. Lalu kami lakukan rapat berdua untuk menyusun langkah-langkah menyambut kematian.

Tak lama berselang, kami merasakan ketenangan yang luar biasa. Ketenangan ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tidak tahu apakah ini karena kami telah melakukan langkah-langkah penyambut kematian yang telah kami siapkan itu. Entah apa yang dirasakan oleh suami sahabatku, tetapi aku merasa plong karena sudah membereskan urusan dengan orang-orang yang akan aku tinggalkan: Hutang-hutangku sudah kulunasi; janji-janjiku sudah kupenuhi. Barang-barang orang lain yang aku pinjam sudah kukembalikan kepada pemiliknya. Aku sudah mendapat maaf dari orang-orang yang pernah kuzalimi; aku sudah memaafkan orang-orang yang pernah menzalimiku. Aku sudah menolong orang-orang yang membutuhkan bantuanku. Aku sudah merampungkan naskah-naskah bukuku dan menyerahkannya kepada penerbit. Aku pun sudah meninggalkan wasiat untuk istri dan anak-anakku.

Sesaat kemudian, suami sahabatku itu benar-benar meninggal dunia. Dia menghembuskan nafas terakhir sambil tersenyum di depan mata kepalaku.

Sesudah jasadnya dikubur, aku kunjungi sahabatku itu. Aku diterima di ruang tengah rumahnya. Ukurannya cukup besar. Ada banyak orang di situ. Namun aku dekati dia. Aku memintanya berbicara empat-mata. “Ada sesuatu yang hendak kusampaikan kepadamu,” kataku kepadanya. Lalu dia mengajakku ke kamar sebelah.

GDUBRAK! Aku terbangun dari mimpi. Dan segera merasakan kekhawatiran: Hutang-hutangku, janji-janjiku, barang-barang orang lain yang aku pinjam, orang-orang yang pernah kuzalimi atau pun menzalimiku, orang-orang yang membutuhkan bantuanku… semuanya belum kubereskan. Aku pun belum meninggalkan wasiat untuk istri dan anak-anakku. Aku pura-pura tidak tahu bahwa aku akan mati.

Padahal, aku pasti akan mati. Sebentar lagi.

2 thoughts on “Pura-pura Tidak Tahu

  1. Ping-balik: Bermimpi Mau Mati | Lowongan Cinta ™

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s